27 Februari 2012

Agama dan Degradasi Moral

RIWAYAT : Mahasiswa S3 IAIN Imam Bonjol

Apakah agama tidak lagi mampu membentengi laju degradasi moral? Sehingga setiap hari kita dijejali dengan perilaku amoral di tengah masyarakat?

Keadaan ini mengelisahkan Syofyan Kudan dalam tulisannya, Membentengi Moral Generasi Muda, (Singgalang, 13/02). Dia menyatakan, salah satu cara mengatasi agar masalah generasi muda tidak merembes ke mana-mana (SD, SLTP, SLTA dan mahasiswa), perlu terap kan pelajaran agama yang sebenarnya kepada mereka.
Perihal penerapan pelajaran agama, ada yang menarik dari pendapat Duski Samad, perkembangan sosial kemasyarakatan di Ranah Minang, seperti budaya dan agama cenderung mengarah ke sisi gelap, (Halua, 26/1).
Hal ini mengindikasikan, keinginan untuk menapaki sejarah gemilang adat filosofi ABK-SBK masih sebatas utopia, sebatas bualan yang tidak pernah membumi.
Secara filosofi ABS dan SBK baik, akan tetapi tatkala bersentuhan dengan realitas aplikasi, ternyata belum berjalan dengan baik, Sehingga ABS-SBK sebatas wacana yang ditinggal merana di ranah realita.
Jika halnya demikian, maka wajar laju dan daya gebrak dari ABS-SBK menjadi melempem.
Bukti dari kemandulan dari ABS-SBK, makin meningkatnya penyakit sosial seperti yang disitir Duski Samad tersebut, tawuran, seks bebas, narkoba, gaya hidup semaunya, bahkan baru-baru ini tertangkap sepasang kekasih, yang sedang mesum dalam mobil.
Ironinya, pelaku perempuannya merupakan mahasiswi perguruan tinggi umum negeri terkenal di Padang. Ini fakta dan realitas dari tidak diaplikasinya dan berjalannya konsep ABS-SBK di Ranah Minang.
Seharusnya, berbagai perilaku amoral yang terjadi di Ranah Minang menjadi cambuk dan tamparan keras bagi pemuka, ninik mamak dan intelektual ntuk bergerak cepat bagaimana mencari solusi yang tepat agar berbagai degradasi moral dapat dicegah dan ditangulangi.
Jika ABS-SBK tidak berjalan dengan baik, tidak membumi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, maka yang terjadi adalah tidak terkendalinya perilaku masyarakat Minangkabau, seperti kerusakan akhlak dan degradasi moral.
Seharusnya penerapan ABS-SBK menjadi prioritas, jika diyakini mampu membawa perubahan yang lebih baik terhadap berbagai degra dasi moral yang makin hari makin bertambah intensitasnya.
Menerapkan ABS-SBK menjadi kian penting takla hal itu diyakini masih mempunyai taji untuk diterapkan dan diejawantahkan di ranah kehidupan sosial kemasyarakatan di Ranah Minang.
Tetapi jika ABS-SBK masih sebatas wacana, symposium, seminar dan diskusi-diskusi massif, tidak akan membawa perubahan secara nyata dalam hal perubahan sikap dan perilaku generasi dan masyarakat Minangkabau.
Dalam hal ini, ABS-SBK hanya sebuah mimpi yang tak pernah merealitas di kehidupan keseharian.
Apakah mimpi-mimpi dan harapan bahwa ABS SBK masih layak dijadikan filosofi kehidupan di Minangkabau? Kenapa perlu juga kita bertanya sebab, ketika ABS-SBK digembar-gemborkan perubahan belum juga dapat dinikmati masyarakat Minangkabau.
Kalaupun dinikmati hal itu hanya sebatas wacana para intelektual di kampus dan berbagai forum ilmiah. Kalaupun ada yang beranggapan bahwa ABS-SBK tidak mangkus, tidak mempunyai daya untuk menahan laju amoralitas. Anggapan itu barangkali bukan pada tataran filosofinya, akan tetapi dalam hal aplikasi yang belum terealisasi dengan baik.
Jika ABS-SBK terealisasi dengan baik dan nyata dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Hal ini perlu dukungan dan kerja keras berbagai pihak, seperti ninik mamak, bundo kandung, dan alim ulama dan pemerintah. Termasuk para intelektual untuk merumuskan kembali konsep ABS-SBK dalam bentuk yang konkrit dan dapat diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Patut dipertanyakan, apakah ninik mamak dan intelektual belum serius mensosialisasikan konsep ABS-SBK di tengah masyarakat, sehingga efek dari Filosofi ABS-SBK belum terasa nyata menjadi pendobrak laju amoralitas?
Jika letak permasalahannya pada tataran aplikasi, maka seharusnya perlu dicari konsep yang nyata, bagaimana penerapan ABS-SBK dalam kehidupan masyarakat, apa hukumannya jika tidak melaksanakan, apa denda jika melanggar aturannya, seharusnya ada konsep yang jelas, sosialisasi yang lebih masif.
Kalaupu tertata dan terkonsep dengan baik dan rapi, maka perlu dicari, dimana kelemahan dan kekurangan sehingga ABS-SBK tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Akan tetapi, jika letaknya permasalahannya ada di pembinaan keagamaan, maka pembinaan keagamaan perlu dievaluasi kembali. Sehingga pembelajaran, pem binaan keagamaan benar-benar mampu mengendalikan perilaku amoral.
Kita patut kembali merujuk ke belakang, 15 dan 25 tahun ke belakang. Bagaimana keadaan pendidikan di Ranah Minangkabau? Apakah telah berusaha membian perilaku dengan baik, atau malah meminggirkan pendidikan akhlak, dan cenderung mengutamakan matrialisme belaka? Perilaku masyarakat kini merupakan hasil pendidikan masa lalu.
Barangkali 15 atau 25 tahun ke belakang, pendidikan keagamaan belum menjadi bagaian penting. Mungkin masih sekadarnya sehingga pemahaman keagamaan tidak menjiwai dalam setiap individu masyarakat.
Jika anggapan ini benar, perilaku masyarakat yang cenderung mengalami degradasi moral, akibat pendidikan masa lalu, hal ini hendaknya menjadi pelajaran bersama untuk lebih memperhatikan pendidikan yang mengutamakan pembentukan akhlak mulia.
Kemudian, bagaimana sikap kita tatkala mencermati hal tersebut? Langkah yang perlu dilakukan, mengupayakan kembali pembinaan akhlak di rumah sekolah dan masyarakat.
Pembinaan akhlak di berbagai kehidupan akan mampu memberi efek pencucian jiwa yang terlanjur beku oleh perilaku yang tertuju kepada perusakan ranah moralitas dan akhlak.
Pembinaan akhlak di rumah perlu kembali dievaluasi dan dintensifkan, mengingat pendidikan akhlak di rumah dan perang orangtua sangat penting.
Jika, pembinaan keagamaan di rumah tangga belum maksimal, kita hendaknya bersepakat meneguhkan dan memulai kembali pembinaan keagamaan di rumah tangga secara maksimal dan berkelanjutan.
Jika dapat dilakukan setiap keluarga, lambat laun degradasi moral dapat kita kikis dan kita cegah. Tidak ada kata terlambat untuk memulai yang lebih baik.
Ketika di setiap keluarga telah mapan dan menerapkan pembinaan agama dengan baik, maka diharapkan terjadi perubahan perilaku di tengah masyarakat.
Azyumardi Azra, pernah menyatakan, orang Minang kabau terjebak dalam materialisme, sehingga mereka bangga menyekolahkan anak-anak mereka di perguruan tinggi umum dengan harapan akan lebih membawa harapan lebih baik.
Jika dibandingkan sekolah dan kuliah di sekolah agama dan perguruan tinggi agama. Tidak heran, jika pendidikan yang berabu agam di Ranah Minangkabau mengalami pasang surut, kalau tidak dikatakan jalan di tempat.
Atau barangkali, Ranah Minangkabau telah mendapatkan karma dari perilaku tidak adil terhadap pendidikan agama atau pendidikan yang berbau agama.
Mungkin di satu sisi pendidikan non agama menjadi idola dan menjanjikan di sisi duniawi, akan tetapi di sisi lain, ada hal yang dilupakan, pendidikan akhlak terabaikan, pembinaan akhlak menjadi terdangkalkan.
Perlu kiranya kita kembali menapaki dan meyakini, pendidikan keagamaan itu penting, pembinaan keagamaan di rumah, sekolah dan masyarakat juga penting dalam upaya mencegah degradasi moral di Ranah Minang. (*)

sumber:http://hariansinggalang.co.id/agama-dan-degradasi-moral/#more-4644


AGAMA ISLAM DAN DEGRADASI MORAL


Apakah
agama tidak lagi mampu mem­bentengi laju de­gradasi moral, se­hingga setiap hari kita dijejali de­ngan perilaku amoral di tengah masyarakat? Menjadi menarik ketika Prof Duski Samad menyatakan bahwa perkembangan sosial kemas­ya­rakatan di Ranah Minang, seperti budaya dan agama cenderung mengarah ke sisi gelap, (Haluan, 26/01/2012).

Hal ini mengindikasikan bahwa keinginan untuk mena­paki sejarah gemilang adat filosofi adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (ABK-SBK) masih sebatas utopia, sebatas bualan yang tidak pernah membumi. Seca­ra filosofi ABS-SBK baik, akan tetapi tatkala bersen­tuhan dengan realitas aplikasi, ternyata belum berjalan de­ngan baik, sehingga ABS SBK sebatas wacana yang diting­gal merana di ranah realita.

Jika halnya demikian, maka wajar laju dan daya gebrak dari ABS-SBK menjadi melempem. Bukti dari keman­dulan dari ABS-SBK adalah makin meningkatnya penyakit sosial seperti yang disitir oleh Prof Duski Samad tersebut, yaitu tawuran, seks bebas, narkoba, gaya hidup semau­nya, bahkan baru-baru ini tertangkap sepasang kekasih, yang sedang mesum di dalam mobil, ironinya ternyata pela­ku perempuannya adalah salah satu mahasiswi perguruan tinggi umum negeri terkenal di kota Padang. Ini adalah fakta dan realitas dari tidak diaplikasinya dan berjalannya konsep ABS-SBK di Ranah Minang ini.

Seharusnya berbagai peri­laku amoral yang terjadi di Ranah Minang ini menjadi cambukan dan tamparan keras bagi pemuka, ninik mamak dan intelektual Ranah Minang untuk bergerak cepat bagaimana mencari solusi yang tepat agar berbagai degradasi moral dapat dicegah dan ditangulangi. Jika ABS-SBK tidak berjalan dengan baik, tidak membumi dalam kehidupan sosial kemas­yarakatan, maka yang terjadi adalah tidak terkendalinya perilaku masyarakat Minang­kabau, seperti kerusakan akhlak, dan degradasi moral. Seharusnya penerapan ABS-SBK menjadi prioritas, jika ABS-SBK diyakini mampu membawa perubahan yang lebih baik terhadap berbagai degradasi moral yang makin hari makin bertambah in­tensitasnya. Menerapkan ABS SBK menjadi kian penting takla ABS SBk diyakini masih mempunyai taji untuk diterapkan dan diejawan­tahkan di ranah kehidupan sosial kemasyarakatan di Rnah Minang ini. Tetapi jika ABS SBk masih sebatas wacana, symposium,seminar dan diskusi-diskusi massif, maka hal itu tidak akan membawa perubahan secara nyata dalam hal perubahan sikap dan perilaku generasi dan masyarakat Minang­kabau. Maka dalam hal ini ABS SBK hanya sebuah mim­pi yang tak pernah merealitas di kehidupan keseharian.

Apakah mimpi-mimpi dan harapan bahwa ABS SBK masih layak dijadikan filosofi kehidupan di Minangkabau? Kenapa perlu juga kita ber­tanya sebab, ketika ABS SBK di gembar –gemborkan peru­bahan sampai saat ini belum juga dapat dinikmati oleh masyarakat Minangkabau, kalaupun dinikmati hal itu hanya sebatas wacana para intelektual di kampus-kampus dan berbagai forum ilmiah. Kalaupun ada yang berangga­pan bahwa ABS SBK tidak mangkus, tidak mempunyai daya untuk menahan laju amoralitas, maka anggapan itu barangkali bukan pada tataran filosofinya, akan tetapi dalam hal aplikasi yang belum terealisasi dengan baik.

Jika ABS SBK terealisasi dengan baik dan nyata dalam kehidupan masyarakat Mi­nang­kabau, maka hal ini perlu dukungan dan kerja keras berbagai pihak, seperti ninik mamak, bundo kandung, dan alim ulama, pemerintah dan para intelek tual untuk meru­muskan kembali konsep ABS SBk dalam bentuk yang kon­krit dan dapat diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Patut juga dipertanyakan, apakah ninik mamak dan intelektual Ranah ini yang belum serius mensosia­lisasi­kan konsep ABS SBK ditengah masyarakat, sehingga efek dari Filosofi ABS SBK belum terasa nyata menjadi pendo­brak laju amoralitas di Ranah Minang ini? Jika letak perma­salahanya pada tataran aplikasi, maka seharusnya perlu dicari konsep yang nyata, bagaimana penerapan ABS SBK dalam kehidupan masyarakat, apa hukumannya jika tidak melaksanakan, apa denda jika melanggar atu­rannya, seharusnya ada kon­sep yang jelas, sosialisasi yang lebih masif. Kalaupu sudah tertata dan terkonsep dengan baik dan rapi, maka perlu dicarai dimana kelemahan dan kekurangan sehingga ABS SBK tidask bejalan seba­gaimana mestinya.

Akan tetapi, jika letaknya permasalahannya ada di pem­binaan keagamaan, maka pembinaan keagamaan perlu dievaluasi kembali. Sehingga pembelajaran, pembinaan keagamaan benar-benar mam­pu mengendalikan perilaku amoral. Kita patut kembali merujuk ke belakang, lima belas dan dua puluh tahun ke belakang. Bagaimana keadaan pendidikan di Ranah Minang? Apakah telah ber­usaha membina perilaku dengan baik, atau malah meminggirkan pendidikan akhlak, dan cenderung mengu­tamakan materialisme bela­ka? Sebagaimana diketahui bahwa perilaku masyarakat hari ini adalah hasil pen­didikan masa lalu.

Barangkali lima belas tahun atau dua puluh tahun kebelakang pendidikan ke­agamaan di Ranah Minang belum menjadi bagain penting dan mungkin masih seke­darnya sehingga pemahaman keagamaan tidak menjiwai dalam setiap individu mas­yarakat. Jika anggapan ini benar, bahwa perilaku masya­rakat yang cenderung menga­lami degradasi moral adalah akibat pendidikan masa lalu, maka hal ini hendaknya men­jadi pelajaran bersama untuk lebih memperhatikan pendidi­kan yang meng­uta­makan pem­bentukan akhlak mulia.

Kemudian, bagaimana sikap kita tatkala mencermati hal tersebut? Langkah yang perlu dilakukan adalah meng­upayakan kembali pembinaan akhlak di rumah sekolah,dan masyarakat. Pembinaan akh­lak di berbagai kehidupan akan mampu memberi efek pencucian jiwa yang terlanjur beku oleh perilaku yang tertuju kepada perusakan ranah moralitas dan akhlak. Pem­binaan akhlak di rumah perlu kembali dievaluasi dan di­ntensifkan, hal ini mengingat pendidikan akhlak di rumah dan perang orang tua sangat penting. Karena anak dila­hirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasr­anai ataupun Majusi. Hal ini juga telah diingatkan oleh Nabi Muammahd SAW seba­gai berikut, “Tidaklah seorang anak itu dilahirkan, kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasranai ataupun Majusi.” (HR. Bukhari).

Dari hadis ini dapat dipa­hami bahwa sebenarnya peran dari orang tua sangat penting dalam membentuk akhlak. Ketika pendidikan, pemben­tukan kerpibadian diabaikan, maka dapat diprediksi peri­laku anak yang tidak men­dapatkan pendidikan agama yang kuat di keluarganya akan cenderung bersikap amoral, berbuat dan ber­tingkah laku menyimpang dari nilai-nilai agama.

Jika, pembinaan keaga­maan di rumah tangga belum maksimal, maka mulai saat ini kita hendaknya bersepakat untuk meneguhkan dan me­mulai kembali pembinaan keagamaan di rumah tangga secara maksimal dan berke­lanjutan. Jika hal ini dapat dilakukan oleh setiap keluarga di Ranah Minang ini, maka dimungkinkan lambat laun degradasi moral dapat kita kikis dan kita cegah. Tidak ada kata terlambat untuk memulai yang lebih baik. Ketika disetiap keluarga telah mapan dan telah menerapkan pembinaan agama dengan baik, maka diharapkan terjadi perubahan perilaku di tengah masyarakat.

Dalam upaya peningkatan kembali pembinaan dan pem­biasaan perilaku agama di rumah tangga kita perlu men­contoh bagimana Lukman mendidik dan membina anak-anaknya dalam hal keaga­maan. Lukman mendidik rasa agama kepada anaknya dapat dipa­hami dari firman Allah sebagai berikut. “Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari per­buatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesung­guhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang di­wajib­kan (oleh Allah).”(QS. Lukman: 17).

Jika mencontoh bagai­mana Lukman menanamkan rasa keagamaan kepada anak-anaknya, maka langkah perlu dilakukan oleh para orang tua dewasa ini adalah bagaimana menanamkan rasa ketuhanan kepada anak. Jika hal ini telah dilakukan dengan baik oleh para orang tua, maka degradasi moral dapat dicegah sedini mungkin, bahkan atei­sme dapat dicegah.

Azyumardi Azra, yang pernah menyatakan bahwa orang Minangkabau terjebak dalam materialisme, sehingga mereka bangga menyeko­lahkan anak-anak mereka di perguruan tinggi umum,dengan harapan akan lebih membawa harapan lebih baik, jika diban­dingkan sekolah dan kuliah di sekolah agama dan pergu­ruan tinggi agama. Tidak heran, jika pendidikan yang berabu agam di Ranah Minang mengalami pasang surut, kalau tidak dkatakan jalan di tempat.

Atau barangkali, Ranah Minang telah mendapatkan karma dari perilaku tidak adil terhadap pendidikan agama atau pendidikan yang berbau agama, mungkin di satu sisi pendidikan non agama menja­di idola dan menjanjikan di sisi duniawi, akan tetapi di sisi lain, ada hal yang dilupa­kan, yaitu pendidikan akhlak terabaikan, pembinaan akhlak menjadi terdangkalkan. Maka tidak heran jika hari ini peristiwa seks bebas, seks di luar nikah, mesum terus terjadi di Ranah Minang ini.

Untuk itu perlu kiranya kita kembali menapaki dan meyakini bahwa pendidikan keagamaan itu penting, pem­binaan keagamaan di rumah, sekolah dan masyarakat juga penting dalam upaya men­cegah degradasi moral di Ranah Minang. Kita hen­daknya menyadari dan mere­nungi firman Allah sebagai berikut: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang dipe­rintahka”(QS. At-Tahrim: 6) hendaknya kita perteguh keimanan, perteguh kembali penjagaan, pemeliharaan terhadap keluarga dan anak-anak kita agar terbebas dari api neraka, baik neraka dunia maupun neraka akherat. Hal ini tentunya makin menya­darkan kita bahwa agama akan mampu mendobrak degradasi moral di Ranah Minangkabau ini, dan meng­gantinya dengan akhlak mulia.

RIWAYAT, MA

(Mahasiswa S3 Pendidikan Islam IAIN Imam Bonjol Padang)

sumber: http://harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=12946:agama-islam-dan-degradasi-moral&catid=11:opini&Itemid=83

21 Desember 2011

CTl In THE LESSONS PAI


Teaching and learning process is considered still not maximal in empowering the existing capabilities in learners. Learning is also considered not able to accommodate the diversity of students. On the other side of learning is still not known and the link between the students are learning with the real world that exists around the learner. This effect is not beneficial to the advancement of knowledge and understanding of learners.Though the students live and socialize in the real environment. However, what students are learning in school is sometimes not directly related to real life and experiences of students outside of school. This situation makes the students' knowledge is not useful and not useful directly. Students learn about something alien.
 
Learning is not just a record and listen to but should be learning actively involves learners in the learning process itself. In other words, the need for interactive learning among students and teachers, in another sense required in the learning process of students' thinking and mental utilizing to the fullest. Thus, learning is not the result of someone else, but of a process of construction processes from these experiences directly.Endang Komara states that interactive learning has the two characteristics of the learning process first involves the mental processes of students to the maximum, the Second, in the learning process to build the atmosphere of dialogue. From this quotation it is understood that learning should be interactive and involve all the capabilities of the learners.

06 Oktober 2011

Methods of Education in the Hadith: Methods and Tarhib Targhib

Riwayat.net-Targhib is the promise that accompanied persuasion and seduction to defer the benefit, delights, and pleasures. However, delay was certain, good and pure and good deeds done by yourself or prevention of a dangerous delicacy (bad job). Clearly, all done to seek pleasure of Allah and it is the grace of God for His servants. [1]Rasulullah SAW. much use in educating targhib friends (the people) it. Among them can be seen in the following hadith.ุนู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ู…ุณุนูˆุฏ ูŠู‚ูˆู„ ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ู† ู‚ุฑุฃ ุญุฑูุง ู…ู† ูƒุชุงุจ ุงู„ู„ู‡ ูู„ู‡ ุจู‡ ุญุณู†ุฉ ูˆุงู„ุญุณู†ุฉ ุจุนุดุฑ ุฃู…ุซุงู„ู‡ุง ู„ุง ุฃู‚ูˆู„ ุงู„ู… ุญุฑู ูˆู„ูƒู† ุฃู„ู ุญุฑู ูˆู„ุงู… ุญุฑู ูˆู…ูŠู… ุญุฑู. [2] ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐู‰Abdullah bin Mas'ud narrated that the Messenger of Allah said: Anyone who reads the Qur'an one letter gets a good reward. One goodness multiplied into ten. I do not say "Alif Lam Mim" is one letter. However, one letter alif, lam one letter and one letter meme.ุนู† ุณู„ู…ุงู† ู‚ุงู„ ู‚ุงู„ ู„ูŠ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ุง ู…ู† ุฑุฌู„ ูŠุชุทู‡ุฑ ูŠูˆู… ุงู„ุฌู…ุนุฉ ูƒู…ุง ุฃู…ุฑ ุซู… ูŠุฎุฑุฌ ู…ู† ุจูŠุชู‡ ุญุชู‰ ูŠุฃุชูŠ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ูˆูŠู†ุตุช ุญุชู‰ ูŠู‚ุถูŠ ุตู„ุงุชู‡ ุฅู„ุง ูƒุงู† ูƒูุงุฑุฉ ู„ู…ุง ู‚ุจู„ู‡ ู…ู† ุงู„ุฌู…ุนุฉ. [3] ุฑูˆุงู‡ ุงู„ู†ุณุงุฆู‰From Salman, he said the Messenger of Allah. said to me, every person who purifies himself on Friday as instructed, then out of his house to attend Friday prayers, he was silent until the prayer is finished will be forgiven his sins since last Friday.

Methods of Education in the Hadith: Repetition and Training Methods

Riwayat.net-Repetition method isุนู† ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ุฃู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฏุฎู„ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูุฏุฎู„ ุฑุฌู„ ูุตู„ู‰ ูุณู„ู… ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูุฑุฏ ูˆู‚ุงู„ ุงุฑุฌุน ูุตู„ ูุฅู†ูƒ ู„ู… ุชุตู„ ูุฑุฌุน ูŠุตู„ูŠ ูƒู…ุง ุตู„ู‰ ุซู… ุฌุงุก ูุณู„ู… ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูู‚ุงู„ ุงุฑุฌุน ูุตู„ ูุฅู†ูƒ ู„ู… ุชุตู„ ุซู„ุงุซุง ูู‚ุงู„ ูˆุงู„ุฐูŠ ุจุนุซูƒ ุจุงู„ุญู‚ ู…ุง ุฃุญุณู† ุบูŠุฑู‡ ูุนู„ู…ู†ูŠ ูู‚ุงู„ ุฅุฐุง ู‚ู…ุช ุฅู„ู‰ ุงู„ุตู„ุงุฉ ููƒุจุฑ ุซู… ุงู‚ุฑุฃ ู…ุง ุชูŠุณุฑ ู…ุนูƒ ู…ู† ุงู„ู‚ุฑุขู† ุซู… ุงุฑูƒุน ุญุชู‰ ุชุทู…ุฆู† ุฑุงูƒุนุง ุซู… ุงุฑูุน ุญุชู‰ ุชุนุฏู„ ู‚ุงุฆู…ุง ุซู… ุงุณุฌุฏ ุญุชู‰ ุชุทู…ุฆู† ุณุงุฌุฏุง ุซู… ุงุฑูุน ุญุชู‰ ุชุทู…ุฆู† ุฌุงู„ุณุง ูˆุงูุนู„ ุฐู„ูƒ ููŠ ุตู„ุงุชูƒ ูƒู„ู‡ุง. [1] ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑู‰From Abu Hurairah that the Prophet entered the mosque, then walked a man, and prayed, then he greeted the Prophet and he also answered his greeting as he said. "Back and The prayer, for surely you have not prayed." Then he comes to give greeting to the Prophet Muhammad, and he said. Kemba1i and salatlah, because actually you do not pray "(three times). Of men said, 'By Him who sent you correctly, I can not do better than him. then teach me. He SAW said, "If you stand for prayer then hertakbirlah, and then read what is easy bugimu from the Koran, then bow down to thee tuma'ninah (calm) in the bow. Then get up until you are standing straight. Then prostrate until you tuma'ninah in prostration, then rise up to thee tuma'ninah in a sitting. Lakukun the demikiun it in all your prayers.

01 Oktober 2011

Download regulasi Pendidikan

UNDANG-UNDANG
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
PERATURAN PEMERINTAH
Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 tentang Guru
Peraturan Pemerintah No 37 Tahun 2009 tentang Dosen
Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan

Methods of Education in the Hadith: Repetition and Training Methods


Repetition method isุนู† ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ุฃู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฏุฎู„ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูุฏุฎู„ ุฑุฌู„ ูุตู„ู‰ ูุณู„ู… ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูุฑุฏ ูˆู‚ุงู„ ุงุฑุฌุน ูุตู„ ูุฅู†ูƒ ู„ู… ุชุตู„ ูุฑุฌุน ูŠุตู„ูŠ ูƒู…ุง ุตู„ู‰ ุซู… ุฌุงุก ูุณู„ู… ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูู‚ุงู„ ุงุฑุฌุน ูุตู„ ูุฅู†ูƒ ู„ู… ุชุตู„ ุซู„ุงุซุง ูู‚ุงู„ ูˆุงู„ุฐูŠ ุจุนุซูƒ ุจุงู„ุญู‚ ู…ุง ุฃุญุณู† ุบูŠุฑู‡ ูุนู„ู…ู†ูŠ ูู‚ุงู„ ุฅุฐุง ู‚ู…ุช ุฅู„ู‰ ุงู„ุตู„ุงุฉ ููƒุจุฑ ุซู… ุงู‚ุฑุฃ ู…ุง ุชูŠุณุฑ ู…ุนูƒ ู…ู† ุงู„ู‚ุฑุขู† ุซู… ุงุฑูƒุน ุญุชู‰ ุชุทู…ุฆู† ุฑุงูƒุนุง ุซู… ุงุฑูุน ุญุชู‰ ุชุนุฏู„ ู‚ุงุฆู…ุง ุซู… ุงุณุฌุฏ ุญุชู‰ ุชุทู…ุฆู† ุณุงุฌุฏุง ุซู… ุงุฑูุน ุญุชู‰ ุชุทู…ุฆู† ุฌุงู„ุณุง ูˆุงูุนู„ ุฐู„ูƒ ููŠ ุตู„ุงุชูƒ ูƒู„ู‡ุง. [1] ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑู‰From Abu Hurairah that the Prophet entered the mosque, then walked a man, and prayed, then he greeted the Prophet and he also answered his greeting as he said. "Back and The prayer, for surely you have not prayed." Then he comes to give greeting to the Prophet Muhammad, and he said. Kemba1i and salatlah, because actually you do not pray "(three times). Of men said, 'By Him who sent you correctly, I can not do better than him. then teach me. He SAW said, "If you stand for prayer then hertakbirlah, and then read what is easy bugimu from the Koran, then bow down to thee tuma'ninah (calm) in the bow. Then get up until you are standing straight. Then prostrate until you tuma'ninah in prostration, then rise up to thee tuma'ninah in a sitting. Lakukun the demikiun it in all your prayers.

Popular Posts